Ekspor Indonesia Berpotensi Melambat Akibat Perang Tarif AS-China

rosidnet

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa ekspor Indonesia berpotensi mengalami perlambatan dampak perang tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, menyatakan bahwa kebijakan proteksionisme yang diterapkan oleh Presiden Trump dalam perdagangan dengan China berpotensi membawa risiko bagi ekspor Indonesia, karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Menurut Juli, “Risikonya bisa dari ekspor kita yang melambat karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat.” Saat ini, Presiden AS, Donald Trump, telah menerapkan tarif dagang sebesar 10 persen terhadap China, yang kemudian dibalas dengan tarif impor oleh Pemerintah China terhadap komoditas AS.

Juli juga menambahkan bahwa kebijakan tarif Trump dapat mengakibatkan Indonesia kebanjiran produk-produk asal China karena barang-barang tersebut tidak dapat diekspor ke AS. Meskipun demikian, Indonesia memiliki peluang untuk mengisi pasar yang ditinggalkan China dengan meningkatkan volume ekspor.

Juli menjelaskan, “Opportunity-nya bisa kita ambil dari peluang ekspor yang bisa kita ambil dari bangsa ekspor yang ditinggalkan Tiongkok.” Sementara itu, Indonesia juga memiliki potensi untuk menerima investasi dari China dan negara lain yang terdampak kebijakan tarif impor AS.

Menurut Juli, “Pernah terjadi saat Donald Trump menjabat presiden AS untuk pertama kalinya, banyak perusahaan merelokasi operasi mereka dari Tiongkok ke Vietnam.” Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut.

Share This Article
Leave a Comment