web statistic

Permintaan Global Melejit, Mentan Genjot Ekspor Produk Olahan Kelapa dan Sawit

3 Menit Baca
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyoroti peluang ekspor produk olahan kelapa dan sawit sebagai motor penggerak pertumbuhan sektor pertanian dan industri hilir. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Permintaan pasar internasional terhadap produk turunan kelapa asal Indonesia terus menunjukkan tren positif.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa perubahan pola konsumsi pangan global telah membuka jalan baru bagi komoditas unggulan dalam negeri seperti kelapa dan turunannya.

Di berbagai belahan dunia, termasuk Tiongkok dan negara-negara Eropa, preferensi masyarakat mulai bergeser ke bahan pangan yang dinilai lebih sehat.

Produk seperti susu kelapa (coconut milk), yang dahulu hanya dikonsumsi secara lokal, kini mendapatkan tempat istimewa di rak-rak supermarket internasional.

“Ada pergeseran konsumsi pangan, seperti di China dan negara-negara lainnya termasuk negara-negara di Eropa, yaitu (komoditas) kelapa,” kata Mentan Amran saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Ia menyebutkan bahwa olahan kelapa seperti susu telah menjadi komoditas bernilai tinggi.

“Jadi, seperti coconut milk, susu (kelapa), dan seterusnya (produk olahan kelapa lainnya). Itu membuat sehat, itu menarik,” imbuhnya.

Tren ini berdampak langsung pada nilai ekonomi kelapa lokal. Jika dahulu harga kelapa hanya berkisar Rp1.000 per butir, kini nilainya melonjak hingga Rp5.000 bahkan Rp10.000.

Hal ini menjadi sinyal penting bagi Indonesia untuk mengambil langkah strategis memperluas ekspor, baik untuk buah kelapa utuh maupun produk turunannya.

“Dulu harga (per buah) Rp1.000, sekarang sampai Rp5.000-10.000. Indonesia tidak boleh tinggal diam,” ujar Mentan.

Dorongan untuk melakukan hilirisasi sektor pertanian juga menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Dengan mendongkrak investasi di sektor pengolahan hasil pertanian, seperti kelapa, Indonesia berpotensi memperkuat pangsa pasarnya di pasar global sembari menggerakkan perekonomian domestik.

“Kita bicara hilirisasi kemarin, kita (melakukan) ratas (rapat terbatas). Banyak investor dari China yang investasi di Indonesia, jadi nilai ekspornya meningkat. Itu tujuan hilirisasi,” kata dia.

Selain kelapa, minyak kelapa sawit mentah (CPO) tetap menjadi komoditas ekspor unggulan.

Namun, Mentan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama melalui hilirisasi.

“Tidak masalah (Indonesia tetap ekspor CPO). Kita lihat mana yang menguntungkan Indonesia. Kalau harga naik, bagus, kita dorong. Kalau harga menguntungkan di tingkat dunia, kita lempar keluar,” ujar Amran.

Dengan mengolah CPO menjadi produk setengah jadi maupun jadi, nilai tambah yang diperoleh akan semakin besar.

Langkah ini dinilai bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri perkebunan, dan mendukung ketahanan nasional secara berkelanjutan.***

Share This Article